Minggu, 8 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
pianomap.compianomap.com
pianomap.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Tiap Pagi Tanpa Buru-Buru: Belajar Lagi di Usia Pe...

Tiap Pagi Tanpa Buru-Buru: Belajar Lagi di Usia Pensiun, Masih Bisa?

Pensiunan sering tanya: masih bisa belajar hal baru di usia ini? Jawabannya bisa, asal caranya beda dari waktu muda.

Tiap Pagi Tanpa Buru-Buru: Belajar Lagi di Usia Pensiun, Masih Bisa?

Ada satu pertanyaan yang paling sering mampir ke telinga gue setiap kali ngobrol sama tetangga yang sudah pensiun: "Mas, saya mau belajar komputer (atau bahasa Inggris, atau apa kek), tapi apa nggak telat ya?"

Pertanyaan itu muncul bukan sekali dua kali. Hampir tiap ada yang baru saja selesai masa kerja, kalimatnya mirip-mirip. Ada rasa ingin, tapi ditahan rasa malu. Takut nggak bisa. Takut diketawain anak atau cucu. Takut otaknya sudah "karatan".

Baca juga: Wakil Muda Indonesia Siap Bersaing di Ajang Putri Kebudayaan 2026

Gue pengen jawab lugas di sini: nggak telat. Tapi jujur ya, caranya memang harus beda. Kalau pensiunan belajar pakai metode zaman sekolah dulu — hafalan, dikejar ujian, duduk diam berjam-jam — ya wajar kalau cepat capek dan akhirnya berhenti di tengah jalan.

Kenapa Belajar di Usia Pensiun Terasa Lebih Susah?

Bukan karena otak sudah rusak. Itu mitos lama yang perlu dibuang jauh-jauh. Menurut berbagai riset soal neuroplastisitas, otak orang dewasa — termasuk yang sudah kepala enam — tetap bisa membentuk koneksi baru. Yang berubah itu caranya, bukan kemampuannya.

Masalahnya biasanya ada tiga. Pertama, energi. Dulu belajar sambil muda, badan masih kuat begadang. Sekarang jam sembilan malam saja mata sudah minta tutup. Kedua, fokus. Pikiran pensiunan sering penuh hal lain: cucu, kesehatan, cicilan, atau sekadar khawatir nggak ada gunanya belajar lagi. Ketiga, rasa minder. Ini yang paling sering gue lihat. Merasa "kalah" duluan sebelum mulai.

Jadi kalau kamu atau orang tua kamu merasa belajar itu berat, itu normal. Bukan tanda gagal.

Lima Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan Pensiunan soal Belajar

Gue rangkum dari obrolan-obrolan itu. Mungkin salah satunya pertanyaan kamu juga.

1. "Mulai dari mana ya, kok bingung?"

Mulai dari yang paling dekat sama hidup sehari-hari. Kalau mau belajar HP, ya mulai dari hal yang bikin repot: cara video call cucu, cara kirim foto, cara pesan ojek online. Jangan mulai dari teori. Mulai dari kebutuhan. Otak orang dewasa lebih gampang nempel kalau yang dipelajari langsung kepakai.

2. "Berapa lama sehari yang wajar?"

Nggak perlu lama. 20 sampai 30 menit sehari sudah cukup, asal rutin. Ini bukan jawaban sopan-sopan. Belajar sambil dicicil justru lebih efektif daripada belajar empat jam sekali seminggu. Otak butuh pengulangan kecil yang sering, bukan gebrakan besar yang bikin kewalahan.

Belajar itu bukan sprint. Apalagi di usia pensiun — ini lebih mirip jalan pagi: pelan, rutin, dan yang penting sampai rumah lagi.

3. "Harus kursus atau bisa sendiri?"

Dua-duanya bisa. Kursus bagus kalau kamu butuh teman dan jadwal yang bikin disiplin. Belajar sendiri bagus kalau kamu tipe yang nggak suka diatur. Yang penting jangan terjebak beli banyak buku atau langganan aplikasi lalu nggak dipakai. Gue pernah lihat satu tetua beli tiga buku bahasa Inggris sekaligus, dan semuanya masih disegel sampai sekarang. Mulai satu dulu. Satu yang benar-benar dipakai.

4. "Otak saya masih bisa nampung nggak?"

Bisa. Yang perlu diubah itu ekspektasi. Anak muda bisa hafal 20 kata baru sehari; pensiunan mungkin cukup 5 kata. Tapi 5 kata yang benar-benar diingat jauh lebih berharga daripada 20 kata yang besok lupa. Kualitas ingatan lebih penting daripada jumlah.

5. "Kalau lupa terus, gimana?"

Lupa itu bagian dari belajar, bukan kegagalan. Justru orang yang sering lupa lalu mengulang lagi, ingatannya jadi lebih kuat. Jadi kalau besok lupa apa yang dipelajari hari ini, ulangi saja. Nggak usah marah sama diri sendiri.

Cara Belajar yang Cocok buat Pensiunan

Ini bagian yang paling gue tekankan. Metodenya harus disesuaikan, bukan dipaksakan.

  • Belajar di jam terbaik, bukan jam terbanyak. Kebanyakan pensiunan paling segar di pagi hari. Manfaatkan itu. Jangan belajar saat badan sudah lelah, karena hasilnya cuma bikin frustrasi.
  • Gabung komunitas. Belajar bareng teman seusia jauh lebih menyenangkan dan bikin bertahan. Ada yang diajak ngobrol, ada yang bisa ditanyai. Ini yang sering bikin belajar jadi kegiatan sosial, bukan beban.
  • Ulangi dengan cara yang beda. Kalau hari ini baca, besok coba tulis. Kalau besok tulis, lusa coba jelaskan ke orang lain. Otak suka variasi.
  • Rayakan hal kecil. Bisa kirim voice note ke cucu, bisa pesan tiket sendiri, bisa baca satu paragraf bahasa Inggris — itu kemajuan. Jangan tunggu sampai "mahir" baru dianggap berhasil.
  • Jangan takut salah. Salah itu data, bukan dosa. Semakin sering salah, semakin cepat tahu mana yang harus diperbaiki.

Gue pernah dengar cerita seorang bapak yang baru belajar bikin video call di usia 68. Awalnya malu, takut salah pencet. Tapi setelah seminggu latihan tiap pagi sambil sarapan, dia malah jadi orang yang paling rajin menelepon cucunya yang kuliah di luar kota. Katanya, "Ternyata bukan susah, cuma belum biasa."

Kalimat itu sederhana, tapi kena. Banyak hal yang kita anggap susah cuma karena belum pernah dicoba, atau karena sudah telanjur percaya bahwa kita "nggak bisa".

Yang Perlu Diingat Sebelum Mulai

Jangan bandingkan diri dengan anak muda. Mereka punya waktu dan energi yang beda. Kamu punya sesuatu yang nggak mereka punya: kesabaran, pengalaman, dan alasan yang lebih jelas kenapa mau belajar.

Dan satu lagi — belajar itu bukan cuma soal menguasai materi. Ada efek samping yang lebih berharga: pikiran tetap tajam, hari-hari lebih berisi, dan rasa percaya diri yang balik lagi pelan-pelan. Pensiun bukan akhir dari belajar. Justru ini waktunya belajar tanpa dikejar-kejar siapa-siapa.

Jadi, besok pagi, coba sisihkan 20 menit. Nggak usah buru-buru. Nggak usah takut salah. Mulai saja dulu.

Tags: belajar usia pensiun pendidikan orang tua cara belajar efektif lifelong learning pensiun produktif