Dulu, waktu gue masih kecil di kampung, belajar ya cuma modal buku LKS sama teriakan ibu suruh hafalan. Nggak ada yang namanya bimbel atau les privat. Sekarang? Beda banget. Tinggal di kota besar kayak Jakarta, Bandung, atau Surabaya, tiap sudut jalan ada spanduk "Bimbel Juara" atau "Les Privat Datang ke Rumah".
Buat kamu yang baru punya anak usia sekolah dan tinggal di apartemen kecil atau rumah petak di kota, pasti pernah deh mikirin ini: mending anak gue ikut les privat, atau gue ajarin sendiri di rumah? Dua-duanya ada plus minusnya. Dan karena gue udah lewatin fase galau ini, gue mau cerita apa adanya.
Les Privat: Mahal Tapi Bikin Tenang?
Jujur ya, les privat itu kayak beli kopi kekinian tiap hari. Rasanya enak, bikin semangat, tapi dompet bisa nangis. Di kota besar, tarif les privat sekarang rata-rata Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu per sesi. Kalau seminggu dua kali, sebulan bisa tembus Rp 2 juta lebih. Buat keluarga muda yang masih nyicil KPR, angka itu bukan main-main.
Tapi ada sisi baiknya. Anak jadi punya "guru kedua" yang fokus ke dia. Apalagi kalau anaknya tipe yang susah fokus kalau belajar sama orang tua sendiri. Gue pernah ngalamin ini waktu ngajarin anak gue matematika. Baru lima menit, gue udah naik pitam, dia udah nangis. Selesai. Nggak ada yang masuk.
Baca juga: Jangan Tunggu Anak Mogok Belajar, Ibu Rumah Tangga Coba Jadwal Ini
Les privat juga bikin jadwal belajar lebih terstruktur. Ada orang lain yang "menagih" progres. Anak jadi nggak bisa ngeles seenaknya.
Yang perlu diingat: les privat bukan jaminan nilai naik. Kalau anaknya nggak nyaman sama tutornya, duit bisa habis percuma.
Belajar Sendiri di Rumah: Hemat, Tapi Butuh Niat
Nah, opsi kedua ini yang gue pilih setelah setahun coba les privat dan sadar budget makin tipis. Belajar mandiri di rumah itu murah banget. Modal buku, internet, dan kemauan. Tapi jangan salah, "murah" bukan berarti "gampang".
Kuncinya ada di rutinitas. Gue sama istri bikin jadwal belajar bareng anak tiap sore jam 4 sampai jam 5. Nggak lama, yang penting konsisten. Kadang gue yang dampingin, kadang istri. Kalau lagi capek banget, kami gantian. Sesekali pakai video belajar dari YouTube yang sekarang banyak banget dan gratis.
Yang paling berat itu bukan ngajarin materinya, tapi menjaga mood. Anak bisa tiba-tiba bosan, ngantuk, atau pengen main HP. Di sinilah orang tua harus kreatif. Gue kadang bikin kuis kecil pakai kartu, atau ngajak dia belajar sambil ngemil di balkon. Suasana baru bikin semangat baru.
Kelebihan belajar mandiri yang sering dilupakan
- Orang tua jadi tahu persis di mana anak kesulitan
- Anak belajar mengatur waktu sendiri sejak kecil
- Nggak ada tekanan "harus cepat paham" kayak di kelas les
- Budget bisa dialihkan buat kebutuhan lain, misalnya buku atau tabungan pendidikan
Jadi, Pilih yang Mana?
Gue nggak akan bilang salah satu lebih baik. Tergantung kondisi keluarga kamu. Kalau dua-duanya kerja dan nggak ada waktu dampingin anak belajar, les privat bisa jadi penyelamat. Tapi kalau salah satu dari kamu bisa meluangkan waktu satu jam sehari, belajar mandiri jauh lebih hemat dan sebenarnya cukup efektif.
Yang gue pelajari dari pengalaman sendiri: kombinasi keduanya kadang paling masuk akal. Les privat seminggu sekali buat materi yang memang susah, sisanya belajar mandiri di rumah. Biaya lebih terkendali, anak tetap dapat pendampingan.
Yang penting, jangan ikut-ikutan tetangga yang anaknya les segala mata pelajaran sampai pulang malam. Setiap anak beda. Keluarga kamu juga beda. Pilih yang bikin anak nyaman belajar, bukan yang bikin kamu kelihatan keren di grup WhatsApp komplek.
Pada akhirnya, alat apa pun yang kamu pilih cuma alat. Yang menentukan hasilnya tetap kebiasaan belajar yang dibangun pelan-pelan, plus dukungan orang tua yang nggak gampang menyerah. Jadi, mau les privat atau belajar sendiri, mulai aja dulu dari satu jam per hari. Nggak perlu sempurna.